SNI Tangga Kebakaran

sni
Berikut ini adalah kutipan mengenai panduan mengenai standar perencanaan tangga kebakaran di bangunan yang dikutip dari SNI.

TATA CARA PERENCANAAN DAN PEMASANGAN SARANA JALAN KE LUAR UNTUK PENYELAMATAN TERHADAP BAHAYA KEBAKARAN PADA BANGUNAN GEDUNG
SNI 03-1746-2000 (Revisi SNI 03-1746-1990)

RUANG LINGKUP :

Standar ini menetapkan pedoman untuk keselamatan jiwa dari bahaya kebakaran. Ketentuan-ketentuannya juga akan membantu keselamatan jiwa dari keadaan darurat yang serupa.

Standar ini mencakup aspek konstruksi, proteksi dan penghunian, untuk meminimalkan bahaya kebakaran terhadap jiwa, termasuk asap, gas dan kepanikan.  Standar ini menetapkan kriteria minimal untuk perancangan fasilitas jalan keluar yang aman, sehingga memungkinkan penghuni menyelamatkan diri dengan cepat dari dalam bangunan, atau bila dikehendaki ke dalam daerah aman di dalam bangunan.

RINGKASAN :
Koridor yang digunakan sebagai akses eksit dan melayani suatu daerah yang memiliki beban hunian lebih dari 30 perlu dipisahkan dari bagian lain dari bangunan dengan dinding yang mempunyai tingkat ketahanan api 60/ 60/ 60 atau sesuai SNI 03-1736-2000 tentang tata cara perencanaan sistem proteksi pasif untuk pencegahan bahaya kebakaran pada bangunan gedung.

Apabila eksit disyaratkan terpisah dari bagian lain bangunan, konstruksi pemisah harus
memenuhi ketentuan yaitu pemisah mempunyai tingkat ketahanan api sedikitnya 60/ 60/ 60
atau sesuai SNI 03-1736-2000 pada eksit yang menghubungkan tiga lantai atau kurang,
sedangkan yang menghubungkan empat lantai atau lebih pemisah mempunyai tingkat ketahanan api sedikitnya 120/ 120/ 120 atau sesuai SNI 03-1736-2000.

Di dalam bangunan tidak bertingkat yang sudah ada, ruang tertutup untuk tangga eksit harus
mempunyai tingkat ketahanan api paling sedikit 60/ 60/ 60 atau sesuai SNI 03-1736-2000.
Bangunan yang sudah ada terproteksi menyeluruh oleh satu sistem sprinkler otomatis yang
terawasi dan disetujui serta dipasang sesuai SNI 03-3989-2000, ruang tertutup untuk tangga
yang ada harus memiliki tingkat ketahanan api tidak kurang dari 60/ 60/ 60 atau sesuai SNI 03-1736-2000.

Ruangan tertutup untuk eksit tidak boleh digunakan untuk maksud di luar kegunaannya
sebagai eksit, dan bila dirancang demikian dapat digunakan sebagai daerah tempat berlindung.

Jalan terusan eksit yang melayani pelepasan dari satu ruang tertutup untuk tangga harus mempunyai tingkat ketahanan api yang sama dan proteksi bukaan mempunyai tingkat
proteksi kebakaran seperti dipersyaratkan untuk ruang tertutup untuk tangga dan harus
terpisah dari bagian lain dari bangunan.

Jendela kebakaran sesuai ketentuan yang berlaku tentang perlindungan terhadap bukaan,
dipasang pada satu pemisah di dalam bangunan yang diproteksi menyeluruh oleh suatu
sistem sprinkler otomatis yang terawasi dan disetujui serta dipasang sesuai SNI 03-3989-2000.

Penyebaran api untuk bahan finis interior pada dinding, langit-langit dan lantai harus dibatasi
sampai kelas A atau kelas B dalam ruang tertutup untuk eksit sesuai ketentuan yang berlaku
untuk bahan finis interior dinding, lantai, dan langit-langit.

Sarana jalan ke luar harus dirancang dan dijaga untuk mendapatkan tinggi ruangan seperti
yang ditentuk an di dalam standar ini dan harus sedikitnya 2,3 m dengan bagian tonjolan dari
langit-langit sedikitnya 2 m tinggi nominal di atas lantai finis. Tinggi ruangan di atas tangga
minimal 2 m dan diukur vertikal dari ujung anak tangga ke bidang sejajar dengan
kemiringan tangga.

Pada bangunan yang sudah ada tingginya langit-langit tidak kurang dari 2,1 m dari lantai
dengan tanpa penonjolan di bawah 2 m tinggi nominal dari lantai.

[Sumber: Novriko]

———————————————

Perda DKI Jakarta no 7/1991

Pasal 113

Setiap tangga kebakaran tertutup pada bangunan 5 lantai atau lebih, harus dapat melayani semua lantai mulai dari lantai bawah, kecuali ruang bawah tanah (basement) sampai lantai teratas harus dibuat tanpa bukaan (opening) kecuali pintu masuk tunggal pada tiap lantai dan pintu keluar pada lantai yang berhubungan langsung dengan jalan, pekarangan atau tempat terbuka.

Pasal 115

(1) Dilarang menggunakan tangga melingkar (tangga spiral) sebagai tangga kebakaran.

(2) Tangga kebakaran dan bordes harus memiliki lebar minimal 1,20 m dan tidak boleh menjepit ke arah bawah.

(3) Tangga kebakaran harus dilengkapi pegangan (hand rail) yang kuat setinggi 1,10 m dan mempunyai lebar injakan anak tangga minimal 28 cm dan tinggi maksimal anak tangga 20 cm.

(4) Tangga kebakaran terbuka yang terletak diluar bangunan harus berjarak minimal 1 m dari bukaan dinding yang berdekatan dengan tangga kebakaran tersebut.

(5) Jarak pencapaian ke tangga kebakaran dari setiap titik dalam ruang efektif, maksimal 25 m apabila tidak dilengkapi dengan spinkler dan maksimal 40 m apabila dilengkapi dengan spinkler.

—————–

Pasal 169

(1) Setiap bangunan sedang dan tinggi harus dilengkapi tangga kebakaran.

(2) Ketentuan teknis mengenai tangga kebakaran ditetapkan oleh Gubernur
Kepala Daerah.

——————

Keputusan Menteri PU No.10/KPTS/2000 tentang Ketentuan Teknis Pengamanan Terhadap BahayaKebakaran Pada Bangunan Gedung dan Lingkungan,
Keputusan Menteri PU No.11/KPTS/2000 tentang Ketentuan Teknis Manajemen Penanggulangan Kebakaran di Perkotaan
Keputusan Dirjen PERKIM No.58/KPTS/DM/2002 tentang Petunjuk Teknis Rencana Tindakan Darurat Kebakaran Pada Bangunan Gedung

Leave a Reply